Karya Isa Alamsyah
Dua anak tikus tertegun melihat sepotong keju yang segar dan harum tergeletak di depan mereka.
Mereka mengendus-endus dari kejauhan.
Salah satu dari mereka begitu bernafsu untuk melahapnya, tapi yang satunya masih bertanya-tanya.
"Wah keju enak nih, dari harumnya saja sudah ketahuan"
"Eh, jangan dulu, mungkin itu keju busuk, buktinya tidak disimpan di lemari!"
"Mungkin saja jatuh, dari baunya aku tahu ini keju enak!"
"Eh tunggu dulu, tapi warnanya sudah kekuningkuningan"
Terus saja mereka saling berargumentasi.
Tak lama berselang induknya terengah-engah datang menghalau mereka.
Kedua anak tikus ini bersikeras dengan pendapatnya masing-masing.
Induk mereka tersenyum dan mengajak mereka naik ke atas meja dan melihat keju itu dari atas.
"Anak-anak, apa yang kalian lihat"
"Keju! yummy"
"Coba lihat lagi di sekitarnya"
"Ada kayu, ada per, ada besi, dan kawat yang terikat pada keju"
"Tahukah itu apa anak-anak"
"Tidak tahu bu!" serentak.
"Itu adalah perangkap tikus, kalau kalian mendekat keju itu, sedikit saja bergerak keju tersebut, maka besi itu akan menjepit kalian dan kalian akan tertangkap atau mati!"
Apa hikmah kisah di atas :
Untuk pebisnis ini adalah kisah tentang bisnis yang menggiurkan.
Seringkali kita melakukan usaha, kita hanya fokus pada keuntungannya saja. Kita bicara tentang berapa modal, berapa keuntungan dan prospek bisnisnya yang sangat menguntungkan. Begitu cepat balik modalnya.
Padahal kalau kita naik ke atas, melihat dengan pandangan lebih luas, kita bisa melihat adanya persaingan, adanya resiko dan tantangan.
Melihat lebih jelas membuat kita bisa membuat keputusan investasi lebih bijak.
Untuk orang tua ini adalah kisah tentang prestasi anak yang menggiurkan.
Banyak orang tua begitu bangga melihat anaknya juara kelas, berprestasi masuk kuliah dan lulus. Seolah olah masa depan sudah di depan mata.
Mereka melihat pendidikan sekolah seperti keju yang menggiurkan.
Padahal di dunia nyata, sekolah hanya unsur kecil dari kesuksesan seseorang.
Banyak sarjana ngangggur, kalau dapat pekerjaaan pun hanya jadi pegawai biasa. Sebagian besar sekolah sekarang tidak disiapkan untuk membuat anak-anak kita menjadi orang yang luar biasa.
Kenyataannya kalau kita ke bank, mau beli mobil, beli rumah, bukan ijazah yang ditanya, tapi account tabungan dan deposito.
Sekolah memang penting, tapi jangan jadikan satu-satunya bekal.
Apalagi kalau sekolah dijadikan sebagai satu-satunya bekal pendidikan, bisa berbahaya.
Jadi orang tua harus menyiapkan anak skill lain di luar sekolah, bahkan percaya atau tidak lebih dari 70% orang berpenghasilan justru dari skill non sekolah.
Fakta ini bisa dengan mudah kita temukan di dunia nyata.
Untuk kehidupan.
Banyak di antara kita terbuai dengan gemerlapnya dunia, padahal dunia hanya transit belaka. Kalau kita terlalu terlena di tempat transit bisa-bisa kita tertinggal pesawat yang menuju tujuan utama hidup manusia. Kebahagiaan yang kekal.
Semoga saja hidup kita tidak terlena dengan kenikmatan yang membuaikan dan membuat kita terjebak pada keterpurukan.
Wednesday, January 27, 2010
koin penentu kemenangan
Koin Penentu Kemenangan
Oleh Isa Alamsyah
Menjelang sebuah pertempuran besar, para prajurit terlihat sangat gelisah. Betapa tidak, mereka akan menghadapi musuh yang mempunyai kekuatan 10x lipat jumlahnya.
Melihat gelagat yang tidak baik ini panglima meminta seluruh prajurit berdoa, bersamanya, agar sang panglima mendapat petunjuk.
Setelah lama berdoa, maka panglima berujar.
"Wahai prajuritku, aku sudah dapat petunjuk!"
Lalu ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah koin emas.
"Koin emas ini akan menunjukkan nasib kita. Jika gambar kepala yang muncul maka kita akan menang, dan jika ekor yang muncul kita akan kalah!"
Lalu koin tersebut dilempar ke udara dan dibiarkan jatuh ke lantai.
Semua prajurit menahan napas, menantikan koin yang berputar cukup lama.
Ternyata yang muncul adalah "KEPALA".
Serentak seluruh prajurit bersorak sorai dan bergegas menuju medan perang.
Tidak berselang lama, mereka memenangkan pertempuran tersebut dan membuat musuh lari tunggang langgang.
Raja sangat gembira mendengar kemenangan ini, dan ia bertanya apa rahasianya.
Dengan tersenyum Panglima memberikan koin itu kepada raja.
Raja tersenyum melihat koin tersebut.
"Sebuah koin emas dengan dua sisi yang sama, bergambar kepala!"
Apa hikmahnya?
Ini adalah kisah yang menunjukkan kekuatan suggesti.
Kekuatan kepercayaan dan kekuatan keyakinan.
Bukan koin itu yang membuat mereka menang, akan tetapi keyakinan mereka akan menang yang membuat mereka menang.
Semakin besar kepercayaan kita pada sugesti yang kita berikan maka semakin besar kemungkinan kita mencapainya.
Pada perang dunia II Hitler mengumandangkan "Deutschland über alles" yang berarti "Bangsa Jerman di atas yang lainnya" Saat itu bangsa Jerman sangat percaya diri dan hasilnya bukan main. Mereka bisa menjajah hampir semua negara penjajah, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh kekuatan sekutu.
Jepang juga dengan semangat "Hakkō ichiu" atau "seluruh dunia dalam satu atap" di bawah kekuasaan Jepang bisa menjadi kekuatan paling menakutkan di Asia.
Inggris dengan semboyannya "British role the wave" nya juga menguasai hampir seperempat dunia.
Muslim di masa lalu yang meyakini "Kuntum Khaoiru Ummah" juga pernah membuktikannya sebagai ummat terbaik, bukan karena kekuasaannya tapi karena amalnya.
Ketika sugesti diyakini dengan kuat, maka akan mempengaruhi pemikiran, otak, dan action.
Jika sugesti belum berpengaruh pada action berarti belum kuat.
Jika ingin sukses, maka langkah petama paling penting adalah percaya bahwa kita bisa sukses.
Oleh Isa Alamsyah
Menjelang sebuah pertempuran besar, para prajurit terlihat sangat gelisah. Betapa tidak, mereka akan menghadapi musuh yang mempunyai kekuatan 10x lipat jumlahnya.
Melihat gelagat yang tidak baik ini panglima meminta seluruh prajurit berdoa, bersamanya, agar sang panglima mendapat petunjuk.
Setelah lama berdoa, maka panglima berujar.
"Wahai prajuritku, aku sudah dapat petunjuk!"
Lalu ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah koin emas.
"Koin emas ini akan menunjukkan nasib kita. Jika gambar kepala yang muncul maka kita akan menang, dan jika ekor yang muncul kita akan kalah!"
Lalu koin tersebut dilempar ke udara dan dibiarkan jatuh ke lantai.
Semua prajurit menahan napas, menantikan koin yang berputar cukup lama.
Ternyata yang muncul adalah "KEPALA".
Serentak seluruh prajurit bersorak sorai dan bergegas menuju medan perang.
Tidak berselang lama, mereka memenangkan pertempuran tersebut dan membuat musuh lari tunggang langgang.
Raja sangat gembira mendengar kemenangan ini, dan ia bertanya apa rahasianya.
Dengan tersenyum Panglima memberikan koin itu kepada raja.
Raja tersenyum melihat koin tersebut.
"Sebuah koin emas dengan dua sisi yang sama, bergambar kepala!"
Apa hikmahnya?
Ini adalah kisah yang menunjukkan kekuatan suggesti.
Kekuatan kepercayaan dan kekuatan keyakinan.
Bukan koin itu yang membuat mereka menang, akan tetapi keyakinan mereka akan menang yang membuat mereka menang.
Semakin besar kepercayaan kita pada sugesti yang kita berikan maka semakin besar kemungkinan kita mencapainya.
Pada perang dunia II Hitler mengumandangkan "Deutschland über alles" yang berarti "Bangsa Jerman di atas yang lainnya" Saat itu bangsa Jerman sangat percaya diri dan hasilnya bukan main. Mereka bisa menjajah hampir semua negara penjajah, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh kekuatan sekutu.
Jepang juga dengan semangat "Hakkō ichiu" atau "seluruh dunia dalam satu atap" di bawah kekuasaan Jepang bisa menjadi kekuatan paling menakutkan di Asia.
Inggris dengan semboyannya "British role the wave" nya juga menguasai hampir seperempat dunia.
Muslim di masa lalu yang meyakini "Kuntum Khaoiru Ummah" juga pernah membuktikannya sebagai ummat terbaik, bukan karena kekuasaannya tapi karena amalnya.
Ketika sugesti diyakini dengan kuat, maka akan mempengaruhi pemikiran, otak, dan action.
Jika sugesti belum berpengaruh pada action berarti belum kuat.
Jika ingin sukses, maka langkah petama paling penting adalah percaya bahwa kita bisa sukses.
Subscribe to:
Posts (Atom)